Copyright © Light After Darkness
Design by Dzignine
Minggu, 21 Juni 2015

My Basket's Life...

Dear All,
Saya tidak tahu kenapa bisa punya pengalaman hidup dengan olahraga yang satu ini. Bahkan tidak hanya pengalaman, tapi saya pernah merasa olahraga ini menjadi satu-satunya hal yang saya fokusi sehari-hari. Padahal sebelumnya, saya bahkan tidak pernah membayangkan akan melemparkan bolanya dengan sengaja dalam sebuah permainan resmi.

Yups...Olahraga ini bernama basket. Sebuah olahraga yang dikenal luas dan menjadi favorit di negara Amerika Serikat, dengan berbagai ikon-ikon terkenal seperti NBA dan Michael Jordan nya. Olahraga ini dikenal sebagai olahraga nya orang-orang dengan postur tinggi (meskipun banyak juga pemain tidak tinggi tapi berkualitas jempolan). Jadi yang merasa berpostur kecil dan pendek biasanya pada minder duluan. Saya sendiri memang lumayan tinggi dibanding dengan teman sebaya, tapi itu sebenarnya bukan alasan kuat kenapa saya nekat mendaftar diri ke kegiatan basket di sekolah (modal tinggi doang itu, mau jadi pemain basket atau ring basket ? wkwk).

Pertama kali pegang bola basket adalah saat SD, saat saya dibelikan bola basket dan bola american football oleh orang tua sebagai hadiah ultah. Padahal saya minta dibelikan bola kaki, tapi kenapa yang datang 2 bola ini masih menjadi misteri (wkwk). Bahkan sampai sekarang saya masih bingung bagaimana memainkan si lonjong bola american football ini dengan teman-teman saya. Bola basket pernah saya coba mainkan di lapangan basket SMA di sebalah SD saya. Tapi karena saya ngga ngerti peraturan bermainnya alhasil cuma lempar-lemparan ngga jelas. Sempet saat saya sedang main waktu itu, ada beberapa orang dewasa datang dan mereka mengambil alih lapangan bola basket yang sedang saya dan teman-teman gunakan, karena mereka akan main full satu lapangan(waktu udah gede, gantian mengambil alih lapangan dari anak SD yang lagi main bola kaki di lapangan bola basket hehe)

Selanjutnya melihat ada orang main basket lagi adalah saat SMP. Waktu itu ada lomba basket antar kelas (semacam class meeting), dan setiap kelas wajib mengirimkan satu tim untuk berpartisipasi. Meskipun saya lumayan tinggi, tapi saya tidak pernah ikut tim kelas. Biasanya sih kalau ada lomba begini yang menang adalah tim nya kakak kelas (apalagi kelas 3), karena mereka tinggi-tinggi banget kaya anak kuliahan (beda banget sama anak SMP jaman sekarang yang seperti anak SD, dan anak SMA yang seperti anak SMP).

Nah saya baru pegang bola basket lagi saat akan ujian praktik menjelang lulus SMP. Kalau ngga salah ujiannya adalah free throw, semacam lempar bola dari kotak penalty gitu lah, sama drible lurus dan zig zag. Demi melancarkan ujian, saya sehari sebelumnya berlatih dengan membawa bola basket saya ke lapangan SMA sebelah SD, demi melatih tangan biar kuat melempar bola (wkwk kasian amat biar kuat katanya). Targetnya tidak muluk-muluk, yaitu tidak harus masuk tapi minimal kena ring. Sampai disana saya malah ketemu anak SMA yang ngekos di daerah saya, dan saya dikira atlet basket SMP lagi latihan (mungkin secara tampilan udah meyakinkan kali yee). Besoknya pelaksanaan ujian pun dimulai, dan target berhasil dicapai. Saya berhasil mengenai ring, dan lumayan lancar drible nya (walaupun daripada disebut drible lebih mirip nabokkin bola).

Saat saya SMA, setelah saya merubah target saya dalam menjalani kehidupan sekolah seperti yang pernah saya ceritakan di postingan sebelumnya, saya memilih basket sebagai ekstrakulikuler saya. Dan ternyata apa yang terjadi dalam pelaksanaan berbeda 180 derajat dengan angan-angan. Pak B, pelatih ekstra basket dan juga guru olahraga saya, adalah pelatih profesional dan wasit basket tingkat nasional. Beliau adalah pelatih hebat dan kenyang pengalaman serta bertekad membentuk peserta ekstra basket menjadi sebuah tim yang benar-benar disiapkan untuk kompetisi. Bayangan saya tentang ekstra basket yang hanya main-main saja sirna, saat di hari pertama saya lihat kakak kelas saya sudah pada ber action layaknya atlit-atlit basket. Sementara saya dan beberapa anak-anak baru peserta ekstra basket masih diajari hal-hal dasar seperti drible dan shooting, sementara mereka yang sudah senior bermain dalam game yang seru. Saya bingung, dan sibuk memikirkan apakah saya akan lanjut atau tidak dengan ekstra ini... tapi kalau kelua,r apakah boleh ? padahal saya baru hari pertama masuk ekstra >< . Salah satu kakak kelas, mendekati saya dan bilang "ehh..kamu tinggi juga, cocok buat posisi center kita"..saya bengong dan menjawab "emm.. center itu apa mas ?" haha ketauan banget orang awam basket. 

Kami menjalani pelatihan ketat dan  digenjot secara fisik dan mental. Seminggu kami menjalani 3 kali pertemuan, yaitu senin, rabu dan jum'at. Kalau misalnya hujan, karena lapangan kami outdoor maka kami latihan di lorong-lorong kelas, yaitu latihan drible, fisik seperti skipping atau mendapat materi strategy permainan. Bila ada turnamen dalam waktu dekat, latihan tambah satu hari di hari minggu, kemudian hampir setiap hari ada latihan ringan jam 09.00. Saya langsung berubah item, dan beberapa teman malah kepikiran pakai sunblok (kemayu tenan hehe). Turnamen besar yang pernah kami hadapi adalah turnamen POPDA kabupaten hexos cup, surya pro cup dan masih banyak yang lain (mentok juara 4 turnamen). Pengalaman kami yang demam panggung menjadi pembelajaran besar, terutama saat kami harus berhadapan dan melihat permainan dari sekolah-sekolah lain yang hebat-hebat. Walau  begitu kami maksimal bisa mencapai semifinal. Lumayan juga hidup berasa atlit sekolah.

Pengalaman saat saya masih kelas X SMA itu, membuat kehidupan berat yang saya alami saat saya ekstra basket berubah menjadi rasa suka. Terbukti dengan tidak ragu saya tetap mendaftar ekstra basket. Padahal saya bisa saja pindah ke ekstra lain yang lebih nyaman, namun saya tetap saja bermain di tim itu. Latihan menjadi semakin keras, dan saya malah merasa latihan di ekstra saja tidak cukup untuk mmengembangkan skill dan fisik. Maka saya hampir selama seminggu full bermain basket, tidak peduli hujan atau cerah. Jika ada satu hari tanpa bermain basket rasanya ada yang kurang. Beruntung, teman-teman di luar SMA juga sedang keranjingan basket, dan mereka selalu setia menemani saya bermain basket saat minggu pagi. Istilahnya saya dapat latihan fisik dan teknik saat ekstra, lalu saya ujicobakan dan improvisasikan saat bermain dengan teman-teman saya saat hari minggu. Tanpa sadar skill saya berkembang. terbukti saat ada turnamen basket antar kelas di sekolah, saya bersama tim kelas saya berhasil menjadi juara 1, dengan mengalahkan semua lawan dari babak penyisihan sampai final, dan alhamdulillah saya dapat reward as Most Valuable Player. Satu gelar yang saya tidak pernah sangka dan saya pilih dedikasikan gelar ini untuk perjuangan dalam berlatih basket itu sendiri.

Walaupun begitu, jam terbang kami masih kalah dengan sekolah lain, khususnya tim putra. Tapi tim putri SMA kami, mampu menembus juara 1 tingkat kabupaten atau regional. Saat mereka main, gantian kami sebagai tim putra yang jadi cheerleader mereka hehe. Saya sendiri memang tidak terlalu mentargetkan diri sebagai atlit yang beneran, jadi pencapaian saat SMA sudah cukup dan membanggakan. Saat kuliah di Farmasi, saya sempat ragu apakah ada yang suka basket di angkatan saya, ehh ternyata ada yang atlit juga yaitu teman saya yang asli jakarta. Semester awal saya masih sempat meluangkan waktu main basket bareng dia dan teman-teman yang lain sebelum mulai sibuk karena ada praktikum. Di Farmasi sendiri tidak ada tim resmi, namun kami pernah membuat tim dadakan berisi 6 orang (padahal basket kan ber 5, bisa dibayangkan capenya T.T) untuk mengikuti turnamen fakultas. Dengan personil seadanya, kami Alhamdulillah bisa meraih juara 2. Lumayan lah daripada langsung tersingkir di babak awal hehe.

Sejak saat itu sampai sekarang saya sudah jarang bermain basket lagi. Sudah lupa rasanya jump shoot, mungkin juga sudah salah langkah kalau disuruh lay up. Pegang Bola mungkin sudah seperti pegang bola berduri, bukan bola yang lengket lagi. Sebenarnya saya rindu berlari di lapangan, rindu mencetak poin, terutama tembakan 3 angka di saat yang penting... atau rindu diteriakan dan disemangati oleh pendukung yang riuh... That was awesome moment... bagaimanapun saya pernah menjalani masa muda yang menyenangkan dulu... dan berharap bisa menemukan hal yang menarik lagi..seperti bagaimana dulu saya tertarik pada basket =).
Best Regards,