Copyright © Light After Darkness
Design by Dzignine
Jumat, 20 Februari 2015

Trilogi masa sekolah : Sekolah Menengah Atas

Dear Sinnamate
Minggu ini almamater SMA saya merayakan hari jadinya ( keberapa saya lupa, hehe *alumni apaan masa ngga tau ???). Intinya sebagai alumni yang baik, saya akan mengucapkan selamat hari ulang tahun untuk SMA yang tercinta; semoga semakin jaya, sukses dan menghasilkan alumni yang hebat dan membanggakan bagi keluarga, agama dan negara Amin...

Momen ini mengingatkan saya kepada memori yang indah sewaktu jaman SMA, jaman putih abu - abu. Saat ini jaman putih abu-abu disebut oleh kebanyakan orang sebagai jaman remaja sedang "labil". Padahal kalau di jaman saya dulu belum populer kata-kata labil, ababil, atau alay.

Flashback ke kisah saya pasca SMP, yaitu setelah saya lulus dengan nilai yang under target dari yang diharapkan, (walaupun tetep bersyukur sih karena masih bisa lulus). Planning untuk mendaftar di SMA favorit harus terkubur dan berganti realistis masuk ke SMA yang mau menerima saya dengan nilai yang ada, termasuk mencoba mendaftar di SMA yang lokasinya di dekat rumah.

Ternyata teman-teman satu SMP justru  bedol desa mendaftar ke SMA yang deket rumah saya itu. Menariknya disana saya tidak hanya bertemu dengan teman satu SMP, namun juga bertemu dengan teman satu SD yang sebelumnya berbeda SMP. Maklumlah sekolah kembali ke desa sendiri, tidak hanya teman, bahkan guru atau pegawai sekolah kebanyakan sudah kenal karena tetangga dan sebagainya.

Masuk ke SMA ini, tadinya saya berniat untuk memperbaiki nilai akademis yang berantakan pas SMP. Namun tiba-tiba saya berpikir ulang, "untuk apa belajar keras dan sebagainya tapi kesehatan tidak mendukung, pasti nilai dapet jelek lagi". Maka saya mengganti target bukan mencari nilai lagi, tapi untuk Memperbaiki kondisi fisik yang rencananya dengan cara ikut ekstrakulikuler Olahraga, karena saya tahu SMA saya ini punya fasilitas yang baik untuk olahraga.

Ada berbagai pilihan ekskul olahraga disana, yaitu sepakbola, bola voli, bola basket, karate, merpati putih, dan lainnnya. Tapi saya sendiri lebih suka dengan olahraga permainan jadi saya  sortir berbagai opsi tadi, kemudian mengkerucut menjadi 3 ekskul incaran, yaitu sepakbola, voli, dan basket. Ending-nya setelah melalui pertimbangan yang matang (atau kebanyakan mikir), saya memilih join ke ekstra basket.

Saya penasaran dengan basket yang katanya olahraga yang keren dimata para pelajar (terutama pelajar cewek, masa sih ?). Modal tinggi (lebih pantes jadi ring basket) dan pernah dribble pas ujian praktek SMP jadi modal nekat (sekali lagi kepedean). Dalam hati dan pikiran, ahh ini ekskul paling cuma lari-larian, maen, lempar-lempar bola, selesai, trus pulang. ..Fix.

Ternyata yang terjadi adalah Ekskul basket justru Eksul yang sesuatu banget dan kalau kata lagunya Afgan itu "mengalihkan duniaku". Ekstra basket ternyata adalah ekstra yang "sungguhan" karena dilatih oleh coach yang sering melatih tim-tim untuk kejuaraan. Apalagi saat akan ada turnamen, latihan berlangsung sepanjang hari siang sore, dibawah panas terik ataupun hujan, sparing sana sini (sama anak SMA lain, anak kuliahan, anak klub) selama 2 tahun membuat saya sedikit lupa apa itu belajar hehe.

Nilai pelajaran menjadi semenjana dengan target realistis "hanya" naik kelas, bahkan sedikit terkejut sewaktu kelas XII, ditanya akan kuliah dimana dengan nilai seperti itu oleh guru Konseling (baru sadar saat liat nilai rapor, tanpa potensi yang jelas akan kuliah dimana). Tapi dengan pede saya masih sempat bilang, "saya sih niatnya masuk kedokteran bu".. sang Guru cuma ketawa-ketawa mencurigakan...

Bicara akademis, nilai yang standar atau menyicipi remidial sudah hal biasa. Padahal itu menjadi barang tabu dalam kehidupan akademis SD atau SMP. Apalagi di SMA jarang dipasang rangking pararel dan rangking kelas sehingga semakin kurang terpacu meningkatkan level akademik. Sadar - sadar adalah ketika sudah kelas XII yang ditarget harus lulus UAN. Tidak mau menjadi korban UAN yang selalu diekpos media setiap tahun (menyedihkan), baru saya bertekad untuk mulai les dan berbagai intensifikasi belajar lainnya di semester akhir,.sehingga malah nilai rapot terbaik justru di kelas XII (kaget juga lihat rangking kelas XII, kelas X dan XI kemana saja saya ?). 

Bicara kegiatan sekolah, ada berbagai kegiatan yang pernah saya alami selama jadi siswa disana. Pertama adalah pramuka dengan kemah baktinya, lalu lomba olahraga antarkelas, hasil karya OSIS SMA, peringatan HUT sekolah dan 17 agustusan yang seru-seru banget. Momen-momen yang paling berkesan adalah saat di Ekskul Pramuka yang diwajibkan saat kelas X, kelompok saya pernah dapet sebagai sangga terbaik saat sub penerimaan tamu ambalan

Kemudian turnamen basket antar kelas, kelas saya pernah jadi juara 1 basket putra satu sekolah... dan tebak siapa MVP nya ??? That's Me, si anak sakit-sakitan di SMP. Semua teman dari satu SMP terkejut melihat hal ini (siapa yang tidak lebih terkejut selain diri saya sendiri ?), terutama bila mengingat diri saya yang dulu dan sekarang. Terakhir untuk peringatan lomba 17 agustus, tim SMA dimana saya "kebetulan" ikut jadi anggota pernah dapet juara 1 lomba gerak jalan tingkat kabupaten (saya sekali lagi hanya menggenapi jumlah anggota tim). Oia pernah juara 1 juga untuk lomba tarik tambang antar kelas hehehe (ciee ketahuan banget yang suka biasa angkat-angkat...).

Bicara tentang friendship. Saya punya gerombolan gank yang konyol dan lucu. Sebenarnya kami memang bukan anak gank banget, karena saya sendiri lebih sibuk di basket jadi cuma kadang ngumpul bareng aja. saya sebu mereka gang Mikro... bukan karena mereka penggemar mikrobiologi, tapi karena mereka penggemar mikro bus (anak gaul bis). Waktu kelas X, saya punya temen satu kelas yang kompak banget cowok dan ceweknya rukun dan sering main bareng kemana-mana, misal ke rumah siapa gitu, masak atau bikin es. Kami kompak karena kelas kami satu-satunya kelas X yang bangunannya terpisah dari kelas X yang lain, dan justru malah lebih deket dengan bangunan kelas XI ( malah jadi punya banyak channel kakak kelas), walaupun tadinya saya merasa kami diasingkan dari pergaulan kelas X.

Kalau pas kelas XI memang tidak terlalu kompak seutuhnya, tapi dalam beberapa event tertentu kami bisa menggila. misalnya anak-anak cewek kalau lagi Bosnia Cup terutama kalau Basket bener-bener Spartan ngedukungnya tim nya...(Cheerleaders NBA aja kalah deh hehe)... saya biasanya jadi korban teriakan mereka kalau lagi main basket. Selain itu pernah  anak cowok minggat semua pas pelajaran matematika, kemudian ketahuan dan kemudian dihukum ditunjuk maju ke depan mengerjakan soal satu-satu dan ngga ada yang bisa. Bisa ditebak habislah kami hehehe. Kemudian kelas XII, anak-anaknya tidak terlalu kompak di awal, namun pada akhirnya kami menjadi sangat kompak karena sama-sama senasib sepenanggungan menjadi UN Fighter.

Bicara tentang love, jika masih inget postingan  yang mengenang masa SD maka kalian akan inget tentang si my first love. Setelah 3 tahun terpisah tidak ada kabar, kami bertemu lagi dan dia masuk sekolah yang sama dengan saya. Walaupun beda kelas tapi saya masih sering bisa melihatnya karena kelasnya adalah kelas yang paling dekat meskipun terpisah juga. Namun jika kami bertemu dulu sangat canggung suasananya, hampir tidak bertegur sapa. Entah karena saya yang tidak membuka komunikasi atau sebaliknya, pembicaraan kami menjadi sangat terbatas layaknya orang asing. 

Bukti canggungnya pembicaraan kami adalah saat itu ada event bersih-bersih di sekolah, saya sedang jalan di lorong depan kelasnya dan tiba-tiba dia menyapa dan bertanya pada saya "ehh apakah kamu punya sapu ?" dan saya cuma senyum kaku sambil bilang "emm..engga".. dia cuma senyum dan bilang "oh ya sudah...(sambil berlalu). Saya mikir, kenapa dia pinjem sapu ke saya ? yang jelas-jelas sedang jalan dan tidak ada niat lagi bersih-bersih, dan dia sendiri apa lagi bersih-bersih juga ? kayaknya tidak juga haha..yah begitulah ada-ada saja pembicaraan kami yang canggung. Tidak lama waktu kami kelas X, dia sudah menjalin hubungan dengan teman sekelasnya, dan awet bahkan sampai lulus. Saat naik kelas XI, saya pernah mengagumi dan dikagumi teman sekelas (ceileehh kepedean, bukan dikagumi tapi dikasihani kali hehe), yang saya sendiri sebenarnya jarang berinteraksi dengan si doi. Saat ultah pernah juga dikasih hadiah olehnya. Namun karena saya terlalu fokus ke basket kami tidak melanjutkan ke perjalanan yang lebih jauh (tapi dia tetap baik..dan sekarang dia sudah menikah dan sudah punya anak... you are getting happines world in your family now)

Tapi saya bersyukur masuk SMA almamater saya ini. Dengan masuk basket saya jadi lebih sehat dan lebih hidup "sosial", kehidupan masa muda lebih aktif dan banyak bergaul dengan orang lain (tidak hanya satu jurusan sains, tpai juga anak sosial baik itu kakak atau adik angkatan). Sangat menarik karena itu merubah hidup saya yang sedikit kaku dan penyendiri pada awalnya. Dengan basket saya mempunyai wawasan yang luas dan teman yang banyak lintas sekolah dan daerah. 

Satu lagi, saya belajar jika kita mempunyai sebuah kompetensi atau kemampuan dalam melakukan sesuatu, itu akan mempermudah kita mempunyai hubungan dengan orang lain. Dengan kemampuan basket, saya mengenal banyak orang sampai lintas daerah (karena turnament, atau sparing) dan itu sangat bermanfaat dalam membina silaturahmi.

Bicara transformasi, temen-temen cukup salut akan perjuangan mencapai perubahan yang signifikan dari anak yang sakit-sakitan di SMP menjadi semacam "atlit"  di SMA. Bahkan diri ini juga tidak percaya dengan apa yang terjadi. Namun karena saya komitmen, maka hasil pun dituai. Rindu sekali saya pada masa SMA...hehe



Transformasi itu penting, saat kita membutuhkan pergerakan menuju hal yang lebih baik.... Perubahan itu seketika

Best Regards,