Copyright © Light After Darkness
Design by Dzignine
Selasa, 02 Juni 2015

Lepaskan semua beban...

Dear All,

Saya selalu merasa khawatir terhadap apa yang belum terjadi. Padahal ketakutan terhadap masa depan itu tidak baik, karena akan menimbulkan pikiran dan emosi yang negatif, dan juga prasangka yang tidak baik. Apalagi jika saya melihat dari sisi kesulitan dan masalah yang akan dihadapi dari suatu hal, maka acapkali nyali akan mengecil dan semangat menjadi goyah. Saya rasa tidak hanya saya yang sering merasakan hal ini, pertanyaanya adalah...benarkah merasa seperti ini ?

Sebagai manusia yang memang diciptakan lemah, saya kira perasaan ini manusiawi. Yang jadi tidak benar adalah perasaan ini berlarut-larut sehingga membuat seseorang menjadi berlemah hati, down dan ketakutan dalam bertindak. Padahal yang terjadi jika seseorang tidak bertindak dalam menghadapi masalah, selamanya dia tidak akan tahu kenyataan yang menunggu di depanya, atau justru dia tidak tahu bahwa akan kemudahan dan kebahagiaan yang ada di belakangnya. Selamanya dia hanya akan membayang-bayangkan dan otaknya penuh dengan ketakutan.

Sejatinya manusia diciptakan untuk berusaha,  masalah mengalami kegagalan atau keberhasilan itu adalah urusan Alloh, jika kita sudah berusaha semaksimal mungkin. Lagipula sebenarnya tidak  perlu takut akan kegagalan, kenapa ? karena sebenarnya tidak ada kata gagal, yang ada hanya SUKSES atau BELAJAR... Gagal hanya terjadi jika kita menyerah dan berhenti berusaha. Kesuksesan adalah masalah waktu, dan perpaduan dengan doa, usaha dan tawakkal. Banyak orang sukses di dunia ini beranjak dari kegagalan yang dia dapatkan berkali-kali, sampai menuju keberhasilan yang gemilang.

Kenapa saya menulis ini ? saya hanya sedang menyemangati diri sendiri, yang selalu merasa penuh beban dalam menghadapi sesuatu yang baru. Padahal kalau mau belajar dari pengalaman, saya teringat saat pertama-tama harus beradaptasi di tempat kerja yang dulu. Saya teringat sedikit kesulitan beradaptasi dengan lingkungan kerja, terutama saat saya harus mempelajari mesin-mesin industri. Saya juga harus mempelajari mekanisme proses, mempelajari teknik industri, dan mempelajari manajerial dan komunikasi terhadap orang lain dalam satu waktu, lagipula saya dituntut untuk cepat bisa membuat keputusan...keputusan yang mengharuskan saya mengetahui kondisi pekerjaan yang matang.

Teringat pula bagaimana saya harus pulang telat hanya untuk belajar mengenai pekerjaan, pulang ke mess harus belajar SOP. Harus sering turun ke lapangan, berinteraksi dengan karyawan, tidak hanya mengetahui bagaimana pekerjaan dilakukan tapi menyelami karakter masing-masing. Disisi lain sebagai anak yang baru merantau, saya harus dihadapkan memenuhi semua kebutuhan sendiri dengan segala manajemen diri yang tentunya harus dan mau tidak mau butuh disiplin. Acapkali saya ditegur karena belum tahu ini itu baik oleh atasan, sejawat atau bawahan hehe, rasanya banyak banget yang harus segera diketahui, tapi rasanya semua itu awalnya bukan sebagai kewajiban tapi sebagai beban.

Lantas yang terjadi selanjutnya adalah, usaha saya mulai membuahkan hasil. Saya mulai sedikit mengetahui mengenai lapangan pekerjaan saya, saya mulai banyak kenal dan menjalin pertemanan dengan sejawat. Saya mulai bisa berinteraksi, berbicara lama, bercanda dan bahkan berbicara lebih dalam dengan karyawan saya. Saya mulai mengetahui background masing-masing, bagaimana menyikapi mereka, bagaimana bekerja dengan mereka. Sampai pada akhirnya, saya berat untuk meninggalkan tempat kerja saya, karena saya sudah menikmatinya... kenapa saya bisa beruba seperti itu ?...Semua adalah karena usaha, doa, dan waktu yang membawa kita menuju masa-masa setelah kesulitan ada kemudahan. Bukankah janji Alloh itu nyata ?

Saya saat ini sedang menghadapi sesuatu yang baru...lalu saya seperti lupa bagaimana harusnya hidup positif itu bisa dilakukan ? kenapa saya tidak belajar dari pengalaman ?, kenapa saya harus meragukan janji Tuhan ?... baiknya saya harus melepaskan semua beban itu... agar menjalani semuanya dengan lebih baik. Mudah-mudahan saja bisa menjadi lebih baik..Aminn

Best Regards,

Journey to the west : Bandung

Dear All,

Saya akan bernostalgia perjalanan ke Bandung pada awal juni. Juni adalah bulan pertama kali menjadi seorang profesional muda, dan perjalanan menjadi profesional muda itu berawal dari perjalanan ini.

Sebelumnya sebagai pengangguran tingkat pertama (pengangguran baru lulus), saya langsung hunting kerjaan dimana-mana, dari rumah sakit, klinik, industri, maupun pedagang besar farmasi. Untuk Apotek sendiri, karena organisasi profesi apoteker wilayah saya mensyaratkan tidak bisa apoteker berpraktik di apotek sebelum magang selama 1 bulan, maka saya pun juga bergegas mengurus rekomendasi magang. 

Sedang sibuk-sibuknya kesana kemari minta rekomendasi magang, saya dipanggil via phone untuk datang dalam rangka interview kerja di sebuah industri farmasi di Bandung. Pulang rumah, saya kabarkan hal ini kepada orang rumah, tapi entah kenapa rasa enggan dan sungkan untuk menerima panggilan ini muncul, mengingat saya sudah berpikir maca-macam tentang kedepannya jika diterima (gaya banget udah mikir kalo diterima,, emang mesti keterima ? ). Resiko seperti jauh dari rumah, kembali menjadi anak perantauan, dan masuk kedaerah yang benar-benar asing, yaitu tanah sunda. Asing secara budaya dan sebagainya bagi saya pribadi. Meskipun daya tarik nama besar perusahaan, nama besar kota bandung, dan tantangan karir di Industri juga membuat saya kepincut.

Dengan sedikit keraguan, saya memutuskan untuk tetap berangkat sehari sebelum hari H ke kota Bandung, agar bisa persiapan fisik dan mental (berharap bisa belajar, bawa buku farmasi industri, dan catatan kuliah...(sayangnya saya jarang nyatet kalau mata kuliah ini, isinya presentasi saja *tear). Berangkat dari kota saya pagi pukul 08.00 sampai disana sekitar pukul 16.30. Hari itu tanjakan Nagreg tidak terlalu macet, namun sempat bikin deg-degan saat bis nya seperti tidak kuat nanjak dan berhenti (ngeriii gan). Masuk ke kota Bandung, seperti biasa pemandangan pegununungan yang permai terlihat dengan indahnya.

Saya sudah kontak 2 teman kampus yang sudah lebih dulu bekerja di perusahaan yang akan menginterview saya, si AF dan GO, tentang dimana saya harus turun, naik apa, berapa biayanya hehe. Berdasarkan informasi, saya harus turun di terminal Cicaheum, terminal kota Bandung. Kemudian lanjut naik bus Damri dalam kota, dan turun di Bunderan Cibeureum. Nah...saya dikasih target sama temen saya, pokoknya bis saya harus sampai di Cicaheum sebelum pukul 17.00, karena setelah jam itu biasanya Bis Damrinya habis, dan saya harus naik angkot dari Cicaheum ke Leuwipanjang, terminal besar lainnya di kota Bandung. Sedikit was-was, karena jalan menuju Cicaheum macetnya itu loh... (mikir keras, kenapa macetnya begini..setelah sekian lama hidup di Bandung baru tahu kenapa)

Alhamdulillah, bis Damrinya masih ada, dan dengan tarif hanya sekitar Rp 3.500 an, saya naik Damri melewati tengah Kota Bandung. Jadinya sedikit seperti tour wisata, karena juga melewati Gedung Merdeka, dan Alun-alun Bandung. Melewati kota Bandung itu berasa lama sekali (karena macet), untungnya banyak pemandangan dan nama-nama daerah yang menarik untuk saya perhatikan sehingga tidak bosan. Saya sempat  melihat ada papan petunjuk arah, ada daerah bernama Cibiru, dan saya berpikir apakah karena daerah ini markas Persib Bandung yang memiliki kekhasan warna Biru jadi daerah ini ternispirasi namanya seperti itu ? atau memang Persib yang terinspirasi dari daerah ini ? atau bagaimana ? (dan prediksi saya salah semua haha).

Sampai di Cibeureum, saya berencana mencari hotel di kota Cimahi, sebenarnya daerah yang saya kunjungi termasuk daerah kota Cimahi, dan berada di ruas jalan Bandung-Cimahi. Setelah dapat Hotel, saya beristirahat dan berniat untuk belajar, tapi tampaknya lebih baik tidur saja. Bangun-bangun sudah menjelang subuh, dan saya disarankan untuk check out dan menuju tempat saya interview pagi-pagi, karena jalan menuju sana itu macet banget (benar adanya). Saya pun berangkat, setalah subuh dan naik angkot berkali-kali ke kompleks industri yang saya tuju. Setelah saya amati, tempat industri itu yang bernama Leuwigajah, adalah sebuah wilayah kompleks industri. Jadi ada banyak Industri, tidak hanya farmasi tapi juga yang lainnya seperti tekstil, garmen dan sebagainya. Pagi-pagi saya sudah sampai di gerbang industri itu dan membuat pak Security nya kaget karena saya sebenarnya kepagian hehe.

Untungnya Security disana ramah, dan saya diminta menunggu di pos sampai pukul 07.30 (untung saya bawa bekal sarapan, jadi aman deh ngga keroncongan). Waktu yang ditunggu tiba dan saya masuk ke kantornya dan ternyata saya menunggu lagi huhu, kali ini tidak sendiri karena saya ada seorang teman yang juga akan interview. Dia apoteker juga, dan berasal dari makassar. Saya tanya-tanya dan saya telisik, ternyata dia adalah teman s1 teman pkpa ku di PKU Muhammadiyah Yogya. Sebenarnya dia juga sedang menunggu hasil interview di sebuah perusahaan farmasi lain di Bandung, dan dia nyabang disini. Sedang boringnya menunggu, tiba tiba saya lihat ada adik angkatan saya S1 datang ke kantor tersebiut membawa surat...wah kami saling sama-sama kaget, kenapa masing-masing ada disitu. Ternyata pasca lulus S1, dia kuliah di Bandung, dan mau PKPA di industri itu. Oalahh...setelah dia pulang, kami berdua dipanggil untuk tes tertulis di lantai 2.

Tes tertulisnya berisi tes potensi akademik atau mirip-mirip tes IQ, yahh lumayan bikin otak panas dehh..tahu-tahu selesai tes sudah jam istirahat, dan kami pun dipersilahkan ISOMA, dan dibelikan nasi padang oleh kantor tersebut (wah baikknya). ISOMA selesai, saya diminta ke Unit 2, untuk interview dengan user yang akan menjadi tempat penempatan kami. Ternyata saya baru tahu saya akan ditempatkan di Unit 2, dan tempat saya tes tertulis tadi unit 1. Kemudian kami diantar oleh mobil perusahaan ke Unit 2, dan sampai disana saya diminta menunggu di lobby untuk panggilan interview. Yups, waktu interview tiba, saya dijemput seorang karyawan yang mengantar kami menuju ke ruang produksi lantai 4.

Sepanjang perjalanan, otak saya campur aduk, terutama memperhatikan lingkungan industri yang saya lewati. Dalam hati berkata, apakah saya akan bekerja di tempat ini setiap hari ? melihat fasilitas industri yang bagus-bagus, dan saya nol besar mengenai pengetahuan terhadap mesin-mesin ini, ini membuat saya pikir-pikir, ah tapi usaha dulu lah, yang penting tunjukkan yang terbaik. Saya disambut oleh manajer produksi yang bernama Pak P, dan saya yang duluan diinterview oleh beliau, teman saya sih katanya diinterview oleh supervisor senior disitu.

Sepintas dari pembicaraan awal saya dengan beliau, saya mengetahui pak manajer orang yang baik dan ramah, supel dan pintar. Saya diminta mengulas habis background saya, dan si Bapak juga mengulas background perusahaan termasuk suka-duka, salary dan fasilitas. Saya memang tidak terlalu punya target tinggi, karena memang saya fresh graduate yang minim pengalaman, jadi saya baik-baik saja terhadap uraian pak Manajer. Saya sempat ditanya, produksi itu apa, siapa supervisor produksi, bagaimana manajemen konflik, Alhamdulillah saya bisa menjawab, meskipun yang saya omongkan itu masuk logika atau tidak haha.

Interview pertama selesai, saya berlanjut ke inteview ke dua saya, dimana yang katanya menginterview saya adalah supervisor senior disana. Yang menarik adalah pak manajer saat bertanya mengenai background pendidikan saya, dan saya menyebtukan asal S1 saya, Pak P menyebut "loh berarti kamu adek angkatannya si ..... (nama supervisor senior itu) dong ? " tapi karena jarak angkatannya cukup jauh, jadi saya tidak familiar dengan orang nya. Baru setelah bertatap muka langsung, baru saya berkata dalam hati "ohh...mas ini toh". Yah begitulah, setidaknya interview berjalan dengan lebih rileks, dan saya ditanya mengenai analisa SWOT pribadi dan sedikit materi-materi kuliah.

Oke... saya kira sudah selesai interview nya, ehhh pak P malah bilang kalau saya harus diinterview oleh seseorang lagi, yang ternyata adalah plant manager. Saya lebih habis-habisan di tanya-tanya disini hehe, sampai pertanyaan sudah punya pacar atau belum >,<.... tapi sungguh dahsyat, dan entah kenapa saya merasa enjoy dan tidak tegang sedikitpun dalam proses interview ini. Pada akhirnya saya selesai pukul 16.30, dan saya segera bergegas pulang (karena katanya bis yang mau ke kota saya maksimal pukul 19.00). Jalanan begitu macet, dan saya sendiri campur aduk antara lapar, capek dan pusing di angkot dan bis Damri. Sampai di terminal Cicaheum, bis yang biasa tidak beroperasi, tapi untungnya ada bis ekonomi yang akan berangkat.. ya sudahlah daripada tidur di terminal..saya pun pulang saja di bis itu. Walaupun tanpa AC, tapi udara dingin Bandung, membuat saya tidak terasa dan tidur pulas saja... sampai di kota saya.

Sampai di rumah, saya beristirahat sambil harap-harap cemas..diterima atau tidak. Tapi saya sempat berpikir, sekalipun diterima, tidak akan saya ambil...tapi keluarga terus mendorong saya untuk menerima..dan H+2 pasca interview...saya dipanggil via phone dan memberitahukan...Selamat anda diterima...

The journey was beginning... dan saya tidak tahu akan bagaimana kondisi kedepannya,,, namun di akhir saaya banyak menemukan hal yang indah... 

Best Regards,
Minggu, 31 Mei 2015

Atap mess...

Dear All,

Atap mess adalah salah satu tempat favorit saya. Why ? disini ada banyak hal yang bisa saya lakukan dan rasakan...

1.  Tempat hunting pemandangan
Saya baru menyadari saat saya akan menjemur pakaian untuk kali pertama (haha momennya tidak keren sama sekali), di atap mess (merupakan lantai ke 4), saya bisa melihat pemandangan Gunung Tangkuban Prahu, Gunung Burangrang dan berbagai pegunungan lain yang begitu indah dengan jelas, terutama saat cuaca cerah. Sejatinya Gunung tangkuban prahu dan kawasan lembang adalah hal yang membuat saya penasaran bagaimana pemandangannya secara langsung dengan mata kepala sendiri. MasyaAllah..sungguh indah, dan saya sering iseng-iseng mengabadikan pemandangan tersebut. Kadang temen mess ada yang dengan kamera yang lebih canggih ikut jepret juga diatas.

2. Tempat ngadem
Sebenanya hawa di mess itu memang sudah adem, tapi kadang pengin juga merasakan ditambah hembusan angin yang lebih kencang. Karena diatas kan ruangannya terbuka, jadi berasa banget aliran anginnya. Itulah kenapa cucian di atas bisa cepat kering kalau cuaca cerah hehe. Terbaikk lah

3. Tempat mencari inspirasi.
Mencari Inspirasi biasanya saya lakukan di kamar, tapi kalau sudah mentok dan buntu, saya biasanya buat kopi susu, mengambil gitar, dan membawa keduanya untuk menjadi teman mencari inspirasi di atap mess. Biasanya saya sembari merenungkan tugas, pekerjaan dan masalah lain. Atau setidaknya bersantai sambil mendendangkan lagu-lagu. Lumayan lah... saya prefer melakukan ini biasanya pada sore hari yang cerah.

4. Tempat berbagi kerinduan.
Tidak bisa dipungkiri, saya sering banget homesick saat di Bandung (sekarang malah bandung-sick)... kadang saya naik ke atap..untuk sekedar melihat langit di sebelah timur dan langit di barat laut. Langit Timur mengingatkan dibawahnya ada rumah kakek-nenek, sedangkat langit barat-laut mengingatkan rumah Ortu. Kadang membayangkan, sedang apa mereka, bagaimana keadaannya.. dan hal yang lainnya. Mellow dahh...

5. Tempat yang akan mengingatkan pengalaman disana
Sejak lama saya seudah berpikir, bahwa jika suatu hari saya harus meninggalkan kota ini, tempat saya berdiri (atap mess) adalah atap yang akan mengingatkan semua kenangan yang ada disana. Saya bisa melihat langit kota Cimahi dan Kota Bandung yang sejuk itu. Maka sebelum saya benar-benar pergi dari kota itu, saya merekam video pemandangan dari atap mess. Lumayan biar bisa nostalgia (malah bikin gagal move on).. saya bisa melihat gerbang tol, apartemen yang menjadi trademark di wilayah itu. 

Oke Fine... saya harus tetap melangkah..mungkin saya bisa melihat spot yang lebih baik lagi dari atap mess... Semoga.

Best Regards,

Tentang Pasar Brigif...

Dear All,

Ahh...akhirnya hari Minggu datang juga... rasanya kangen hari minggu (The Real Sunday) hehe, setelah tiap hari beraktivitas penuh tiap hari, saatnya mencari waktu untuk bersantai atau refreshing. Kali ini saya akan posting mengenai pengalaman menghabiskan waktu di Sebuah pasar kaget di kota Cimahi sebagai bentuk bagaimana saya menghabiskan waktu di minggu pagi. Nama pasar kaget itu adalah pasar Brigif... Loh kok namanya rasa-rasa militer ? check this out...

Penduduk kota Cimahi dan sekitarnya tentu sudah tidak asing dengan yang namanya pasar Brigif. Pasar Brigif adalah sebuah pasar kaget yang diadakan di lapangan milik Brigif 15/Kujang II Siliwangi, sebuah satuan militer di Kota Cimahi. Kenapa disebut pasar kaget ? yahh bukan karena bikin kaget orang, tapi karena emang sehari-harinya lapangan itu kosong, tapi hanya di hari minggu, tiba-tiba disulap menjadi sebuah pasar dengan banyak orang mengunjunginya.

Pada suatu hari saya dan beberapa teman mengunjungi pasar ini. Radius 1 km, perjalanan menuju pasar ini sudah begitu macet, karena banyak para pedagang sudah membuka lapakknya di area masuk ke Pasar Brigif. Setibanya disana saya disuguhi pemandangan banyak pedagang dan masyarakat tumpah ruah di kompleks lapangan tersebut. Ada yang jualan pakai tenda, ada yang semi kios ada yang kaki lima an, dan ada juga yang jualan dengan mobil pribadi. Disini banyak variasi item yang diperdagangkan dari kuliner, fashion, perlengkapan rumah tangga atau hal entertainment lainnya. Tidak hanya jualan, disini juga banyak atraksi, show dan sebagainya.

Keunggulan dari tempat ini adalah area jelajah yang luas, sehingga kita punya kesempatan untuk bisa bernafas, walaupun beberapa jalan itu benar-benar susah buat jalan karena banyak banget orang. Sebenarnya pasar kaget itu tidak berdiri di atas lapangannya, namun hanya di kompleks sekitarnya saja. Soalnya lapangannya sendiri juga kadang masih dipakai untuk olahraga, entah ada yang sedang main bola, atau sedang jogging di track yang mengelilinginya. Di sekeliling kompleks pasar Brigif juga ada lapangan tenis. Kabarnya orang-orang di tempat kerjaku pada sering main disini kalau kamis sore, termasuk manajerku. Sempet diajakin, tapi saya sendiri belum pernah nyobain hehe.

Saya mengawali dengan menjelajahi dari sisi kiri, dan jalannya sangat padat dan merayap. Perlu diketahui, tetap waspada terutama mengenai barang-barang berharga yang dibawa agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan (kriminal ada karena kesempatan). Di kanan-kiri banyak sekali jualan kaos, baju, jaket, jilbab, dan segala fashion termasuk kacamata, kalung, dan batu akik. Ada juga yang jualan perlengkapan rumah tangga, perkakas dapur, bahan memasak, dan juga sampai jualan motor dan mobil. Rasanya semuanya dijual di pasar ini hehe. Ternyata area berjualannya sangat luas, jadi bagi yang seneng jalan-jalan belanja, disinilah tempatnya. Tapi hal ini rentan membuat orang yang datang capek dan lelah karena harus jalan-jalan kemana-mana dari ujung ke ujung. Tentunya selain cape, yang pasti dirasakan adalah Lapar dan Haus, But itu sudah diantisipasi oleh para penjual disitu, dengan menciptakan pasar brigif juga sebagai pasar kuliner kaget.

Bubur ayam, Kupat tahu, nasi uduk, surabi, mi ayam, baso, dan sebagainya sudah siap menanti para orang lapar datang kepada mereka. Berbagai jenis es juga tersedia, termasuk es goyobod khas bandung yang terkenal itu. Tidak hanya itu, banyak permainan anak juga ikut serta meramaikan pasar briegif, seperti odong-odong, pancing-pancingan maupun bermain dengan hewan, seperti kelinci, marmut. Ada juga bermain dengan ular dan foto bareng, nah lohh ini permainan anak atau permainan ekstrem ?

Pasar Brigif yang jelas pada hari minggu menjadi sentra hiburan bagi masyarakat kota cimahi dan sekitarnya, mungkin sama halnya Gasebu untuk warga kota Bandung. Tidak jarang warga kota Bandung malah datang ke Brigif untuk belanja atau wisata kuliner. Saya sendiri dalam kunjungna tersebut tidak ubahnya hanya untuk melepas rasa penasaran, bagaimana pasar brigif yang sering dibacarakan orang. Dari temen kantor sampai security di mess saya bilang "pak, sekali-kali main ke brigif, nyari sarapan disana hehe"... jadi tambah penasaran. Secara kualitas harga, memang saya lihat harganya cukup murah dan bisa dinego (pintar-pintar nawar saja), dan secara kualitas lumayan baik, karena kebanyakan adalah produk fresh dari pabrik (mungkin sisa hasil produksi)... maklum lah Kota Bandung-Cimahi merupakan area industri. Hmm sayangnya saya ngga bisa ikut jualan disitu, masa saya jualan obat antibiotik di pasar kaget ? mana eceran dan bisa nego lagi hadehhhh bodor da haha.

Akhir perjalanan saya di Pasar Brigif, saya berdiri di sebuah tribun di pinggir lapangan sepak bola. Itu memang spot terbaik untuk melihat pasar brigief dari atas, sambil duduk ngadem melepas lelah. Banyak banget yang duduk disitu, dan hampir saya melihat ada sisi yang kosong untuk duduk. Disana saya jelas melihat hiruk pikuk Brigif, merasakan kesejukan hawa di Cimahi, dan melihat indahnya Tangkuban Perahu dan Burangrang berdiri melihat kami. Sebuah pemandangan khas sana yang tak terlupakan... Selalu terjebak nostalgia untuk bisa kembali kesana :')

Best Regards,
Minggu, 24 Mei 2015

Cara Berbicara yang baik menurut Rasulullah SAW.

Dear All,

Siapa yang tidak suka mendengar tutur kata yang baik, penuh sopan santun, dan bikin hati adem ?. Di era modern seperti saat ini, keterampilan berkomunikasi adalah sangat perlu dalam kaitanya berinteraksi sebagai mahluk sosial dan kepentingan atas membangun relasi. Kita tidak bisa membangun jejaring jika kita hanya diam, walau begitu ada banyak sekali orang yang menggunakan ketrampilan  berbicaranya justru untuk menyampaikan hal-hal yang melanggar kebenaran seperti berbicara bohong, fitnah, melakukan penipuan dan menimbulkan permusuhan

Padahal uswatun khasanah kita Rasulullah Muhammad SAW, memberikan teladan bagaimana cara berbicara yang baik, tidak hanya pilihan katanya, namun juga makna di dalamnya serta menimbulkan akibat setelahnya. Rasullullah SAW adalah sosok yang fasih berbicara, walaupun sedikit bicara namun penuh makna, mudah dimengerti, dan tidak menyinggung perasaan orang yang diajak berbicara. Di masa ini sering kali kita mendengar banyak orang berbicara banyak dan panjang lebar, namun berputar-putar tanpa arah, menggunakan pilihan kata ilmiah yang justru tidak tepat (tepat arti, tepat waktu dan tepat sasaran), dan cenderung mendiskreditkan sesuatu atau seseorang. 

Rasulullah SAW, dalam berbicara selalu penuh kebaikan dan kesabaran, termasuk dalam menghadapi kesalahan orang lain. Entah itu kesalahan yang berhubungan dengan dirinya langsung atau tidak. Ketika ada yang salah dan harus dihukum, maka Rasulullah SAW menghukum dengan adil tanpa harus menghinakannya atau mencemoohnya, apalagi di depan umum. Rasulullah SAW selalu meberikan motivasi perbaikan diri kepada orang yang dihukum dan sudah menyesali kesalahannya, misalnya dengan menyarankannya melakukan taubat. Kenyataan zaman ini, penghinaan dan cemooh pada orang yang salah dikuatkan dengan alasan "memberikan efek jera". Sayangnya justru hal-hal seperti ini terjadi pada saat periode seseorang menjalani masa sekolah atau saat masih kecil. Betapa banyak kejadian seorang anak yang salah, dimarahin habis-habisan oleh orang yang lebih tua, dan teman-teman yang lain menertawakannya sehingga membuatnya malu. Padahal walaupun ini tidak hanya memberikan efek jera, tapi efek sampingnya adalah dapat menimbulkan perasaan sakit hati, mental down, dan keinginan melakukan hal yang sama jika ada orang lain mendapatkan nasib yang sama. Sungguh memprihatinkan.

Rasulullah SAW tetap mempertahankan cara berbicara yang sabar, meskipun saat menghadapi masalah. Beliau tidak pernah tidak menyalahkan siapapun, apalagi menghujat Allah SWT jika mendapat musibah, dan yang beliau lakukan hanyalah melakukan introspeksi dan memperbaiki diri sambil bersabar. Bersabar menurut Rasulullah SAW tidak ada batasnya, karena hanya diri seseorang yang membatasinya. Meskipun dihadapkan dengan perilaku orang lain yang membuat emosi tinggi, tapi Beliau hanya menanggapinya dengan tenang, sabar, berbicara dan mengklarifikasi seperlunya dan sebenar-benarnya (jika itu tentang fitnah dari orang lain), dan mendoakannya agar tersadar dan mendapat hidayah dari Alloh SWT. Sesungguhnya, jika seseorang bersabar dan mendiamkan hinaan atau kata-kata menyakitkan hati dari orang lain, maka orang yang sabar itu layaknya sedang menyiapkan bara api neraka untuk orang yang menghinakannya. Kita tidak perlu memikirkan cemoohan orang lain, karena itu adalah opininya, dan tidak memberikan pengaruh apapun pada kita, justru omongannya membuat dia harus berurusan dengan Alloh SWT atas dosanya. Berkatalah yang baik atas orang yang sudah meninggal, kecuali untuk penulisan sejarah, boleh ditulis sewajarnya berdasarkan fakta yang ada.

Berbicara tentang orang yang sudah meninggal pun Rasulullah SAW selalu berbicara yang baik-baik saja. Beliau hanya memberikan keterangan seperlunya sesuai fakta yang sebenarnya. Kepada ahli waris dan bukan ahli waris nya, dan apabila bertemu dengan orang fakir-miskin, berbcara kepada mereka dengan baik, membantu tanpa perlu menghinakannya. Jika harus berdebat dengan orang laim, gunakan kata-kata yang baik, dan cara yang paling baik. Dan yang menarik, saat berbicara dengan lawan jenis, gunakan kata-kata yang baik (terutama saat akan meminangnya).

Best Regards,

Kehidupan Kefarmasian di era Muslim...

Dear All,

Di era kesehatan modern, perkembangan dunia kesehatan menuju sebuah era baru pelayanan kesehatan yang berbasis kepada patient oriented. Hal itu membuat dunia kesehatan , khususnya kedokteran dan farmasi bekembang melakukan berbagai improvement dan research untuk terus memenuhi kebutuhan kesehatan pasien, seiring permasalahan kesehatan yang semakin kompleks. Khususnya di dunia farmasi, dunia barat melakukan berbagai penelitian dan penemuan yang banyak jumlahnya, dan menjadi rujukan ilmu kefarmasian seantero dunia. Lantas bagaimana dengan dunia timur ?, sejatinya perkembangan dunia kefarmasian pernah mengalami "era emas"  pada saat dulu di era timur, yaitu era muslim bahkan menjadi kiblat ilmu kefarmasian. Bagaimana sejarahnya ? Check This Out...

Menurut Nabi Muhammad SAW "Tidak ada penyakit yang telah Allah ciptakan, kecuali  Dia juga telah menciptakan obat nya." (HR Bukhari), hal ini adalah dasar pemikiran para ilmuwan-ilmuwan islam di era selanjutnya untuk berkarya dan berpikir untuk melakukan perkembangan ilmu pengobatan. Pada abad ke 9, perkembangan dunia medis dan pengobatan mulai muncul dipelopori oleh komunitas medis muslim. Beberapa tokoh terkenal seperti Ar-Razi dan Ibnu Sina bermunculan sebagai tokoh kedokteran dan farmasi. 

Toko obat pertama di dunia didirikan di dunia Arab (Baghdad 754). Howard R. Turner dalam bukunya berjudul  Science in Medievel Islam serta Philip K Hitti dalam bukunya yang berjudul History of Arab, juga menyatakan peradaban Islam yang pertama kali mendirikan apotek dan sekolah kefarmasian, hal ini menyebabkan banyak apotek tumbuh di kota-kota islam pada eranya tidak hanya di kota Baghdad - kota metropolis dunia di era kejayaan Abbasiyah. Para ahli farmasi ketika itu sudah mulai mendirikan apotek dan menggunakan keahlian yang dimilikinya untuk meracik, menyimpan, serta memberikannya ke pasien. Pemerintah di era tersebut pun turun mendukung perkembangan di bidang farmasi. Rumah sakit milik pemerintah mendirikan laboratorium untuk meracik dan memproduksi aneka obat-obatan dalam skala besar. Keamanan obat-obatan yang dijual di apotek pribadi dan pemerintah diawasi secara ketat dan secara periodik oleh pemerintah melalui pejabat dari Al-Muhtasib (Semacam BPOM) yang mengawasi dan memeriksa seluruh toko obat dan apotek. Para pengawas dari Al-Muhtasib secara teliti mengukur akurasi berat (mengkalibrasi alat ukur dan timbang) dan ukuran kemurnian dari obat yang digunakan. Semua itu dilakukan semata-mata untuk melindungi masyarakat dari bahaya obat-obatan yang tak sesuai dengan aturan. Ini adalah bukti dasar-dasar patient oriented telah diperkenalkan di era lampau.

Perkembangan  ilmu botani dan kimia telah mendorong umat Muslim untuk mengembangkan farmasi.  Pada masa itu, ilmuwan Muslim seperti  Muhammad ibnu Zakariya ar-Razi (865-915 M) alias Razes turut mengembangkan pengobatan dengan menggunakan obat-obatan.  Selain itu, dokter dan ahli farmasi Muslim lainnya  Abu al-Qasim al-Zahrawi alias Abulcasis (936-1013 M) juga tercatat sebagai saintis perintis dalam bidang distiliasi dan sublimasi.  Tak cuma itu, Sabur ibnu Sahl (wafat 869 M), juga tercatat sebagai dokter pertama yang mencetuskan  pharmacopoedia. Ia telah menjelaskan beragam jenis obat-obatan  untuk mengobati penyakit. Ilmuwan Muslim lainnya yang turut menopang tumbuhnya apotek di era Islam adalah  al-Biruni (973-1050 M). Sang ilmuwan legendaris Islam itu telah menulis buku farmakologi yang sangat berharga bertajuk  Kitab al-Saydalah ( Buku tentang Obat-obatan).

Dalam kitabnya itu, al-Biruni menjelaskan secara detail pengetahuan mengenai peralatan untuk pembuatan oba-obatan, peran farmasi, fungsi serta tugas apoteker. Ia juga menjelaskan tentang apotek. Ilmuwan Muslim lainnya, Ibnu Sina  alias Avicenna juga menulis tak kurang dari 700 persiapan pembuatan obat, peralatannya, kegunaan dan khasiat obat -obatan tersebut.  Kontribusi Ibnu Sina dalam bidang farmasi itu dituliskannya dalam bukunya yang sangat monumental  Canon of Medicine. Ilmuwan lain adalah al-Maridini dan Ibnu al-Wafid (1008-1074). Kedua karya ilmuwan Muslim itu  telah dicetak dalam bahasa Latin lebih dari 50 kali. Kitab yang ditulis keduanya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin berjudul   De Medicinis universalibus et particularibus dan   Medicamentis simplicibus. Bisa jadi perkembangan ilmu pengobatan berkembang pesat, karena banyak sekali karya tulis yang diciptakan para ilmuan di zaman tersebut.

Sejak dulu, apotek yang dikelola apoteker merupakan bagian yang tak terpisahkan dari  pelayanan kesehatan yang terpadu Hal itu sama halnya dengan  farmasi dan farmakologi yang juga merupakan bagian yang tak terpisahkan dari ilmu kedokteran. Dunia farmasi profesional secara resmi terpisah dari ilmu kedokteran di era kekuasaan Kekhalifahan Abbasiyah. Terpisahnya farmasi dari kedokteran pada abad ke-8 M, membuat apoteker menjadi profesi yang independen dan sebagai ilmu yang berdiri sendiri. Jadi seharusnya kedua disiplin ilmu ini merupakan dua ilmu yang mampu melengkapi satu sama lain.

Melihat sejarah tersebut, sungguh kagum terhadap pencapaian dan karya yang diberikan oleh umat Muslim pada zaman dahulu. Sebagai umat muslim di era sekarang, sudah seharusnya kita memberikan kontribusi yang baik pula untuk masyarakat... Aminnn... semoga mampu menjadi inspirasi bersama.

Best Regards,

 
Sabtu, 23 Mei 2015

Mudik ( Bandung - Bogor)...

Dear All,

Akhir pekan ini saya begitu tunggu-tunggu. Jadwal kerja sampai hari sabtu membuat saya merasa dalam satu minggu waktu berjalan panjang. Karena dulu di tempat kerja sebelumnya, saya hanya bekerja sampai hari jumat. Saya jadi teringat saat saya dulu di tempat kerja sebelumnya karena esok sabtunya libur, kadang saya izin cuti setengah hari di hari jum'at hanya demi mudik hehe.

Akhir pekan di Kota Bandung memang menyenangkan, sayangnya dulu sempat pula ngga betah di kota tersebut, jadi lebih sering mudik ke Bogor daripada keliling kota kembang di akhir pekan. Saya biasanya mudik setelah jam pulang yaitu sekitar pukul 16.00 atau nekat cuti setengah hari yaitu pukul 11.00. Namun jika cuti setengah hari, saya biasanya solat jum'at lalu makan siang dulu di kantor baru pulang. Pulang ke Mess, saya membawa baju ganti seperlunya, laptop dan yang pasti dan wajib bawa....JOYSTIK.

Dari mess, saya naik angkot ke Cimindi, tempat berkumpulnya angkot menuju terminal Leuwipanjang. Saya harus bergegas naik angkot sebelum jam pulang pabrik atau tempat kerja, karena pasti macet sekali menuju kesana. Pernah saya hampir setengah jam di angkot menuju cimindi, padahal jarak mess ke cimindi paling 1,5 km. Pengalaman saya mudik pertama kali justru saat subuh saat bulan puasa, dimana saya berangkat jam 05.00 pagi bareng sama orang mau ke pasar Cimindi. Cukup membayar Rp 2000, dan saya pun sampai (tapi kayaknya sekarang tarifnya 3000-4000).

Sampai di Cimindi saya menyebrang jalan dibawah flyover. Jalan disitu ramai sekali karena merupakan jalan penghubung kota Bandung dengan Kota Cimahi, padalarang dan seterusnya sampai cianjur. Dulu sebelum ada tol cipularang, perjalanan dari jakarta atau bogor ke Bandung melewati jalan ini. Disini tidak perlu bingung tidak ada angkot, karena ada banyak sekali angkot menuju terminal Leuwipanjang, namun jangan sampai salah masuk ke angkot jurusan stasiun Bandung yah hehe. Selanjutnya setelah naik angkot, saya menyusuri rute jalan raya menuju kota Bandung melewati beberapa daerah seperti Cibeureum, Elang (Tempat pemberhentian Damri), Pasir Koja, Kopo, Caringin sampai Terminal Leuwipanjang. Jalan yang saya lewati adalah Jalan Soekarno-Hatta, jalan yang cukup terkenal di Bandung karena merupakan jalan utama di pinggiran kota Bandung. Jalan disini juga kadang lumayan macet dan ramai. Pengalaman saya di rute ini yang menarik saat saya mudik pagi-pagi, saya dicurhatin supir angkot yang kesel sama penumpang dan kehidupan ekonomi di Indonesia dari Elang sampai terminal. Alih-alih saya menanggapi pembicaraan, saya cuma bisa bilang "ohhh, iya... ; ohh..gitu ya pak "... bukan karena saya males ngomong atau apa...tapi karena saya juga tidak tahu persis bapaknya ngomong apa..karena beliau menggunakan bahasa sunda T.T 

Sampai di Terminal Leuwipanjang, salah satu dari 2 terminal besar di kota Bandung (selain terminal Cicaheum), melayani perjalanan ke arah barat-utara kota Bandung. Terminal ini lumayan besar dan didominasi bis menuju jabodetabek dan Sumedang. Untuk mudik saya harus naik sebuah bis yang bernama MGI, yang jadwalnya biasanya satu atau 2 jam sekali ada. Biasanya saya pakai yang jam 17.00 (karena jalan macet, pasti perjalanan ke terminal habis 1 jam atau lebih). Saya lebih prefer naik Bis MGI yang jurusan Bandung-Cibinong, karena rute lanjutan saya yang lebih mudah. Perjalanan menuju Bogor melewati Tol Cipularang-Cikunir dan Jagorawi (Tol-tol beken nih hehe). Karena setelah tol jarang sekali berhenti (cuma berhenti 2 kali saja), maka saya biasanya harus banyak persiapan, termasuk beli bekal jajan untuk kuliner di Bis hehe. 

Secara fasilitas bis MGI ini termasuk nyaman, dan mantap. Fasilitas bis yang bersih, full AC dan tempat duduk yang nyaman, membuat bis ini selalu penuh. Satu lagi bis ini selalu berangkat sesuai jam berangkat yang sudah ditentukan (ini kerennya), jadi jarang ada adegan nunggu bis penuh kaya kebanyakan bis nongkrong di terminal. Hal yang menarik adalah banyak muda-mudi yang sering mudik ke Bogor di akhir pekan (biasanya anak bogor yang kuliah di bandung) memenuhi bis ini. Lumayan lah, jadi berasa kaya sedang bis darmawisata kampus,,, tidak jarang sebelah tempat duduk adalah orang-orang kece dan stylish hehe bonus... sayangnya saya selalu dalam kondisi lusuh dan kucel (udah kucel, ditambah abis pulang kerja, ditambah perjalanan 1 jam panas, penuh debu dan macet).

Perjalanan melewati tol Cipularang, yang dipenuhi pemandangan pegunungan, sayangnya karena perjalanan itu selalu menjelang gelap, jadi tidak banyak pemandangan yang bisa saya lihat. Biasanya sih saya emang tidur juga, dan tahu-tahu sudah di tol cikampek menuju jagorawi. Kadang kalau lagi ramai, tol cikampek dan jagorawi macet abis dan saya pernah jadi nyampe rumah jam tengah sepuluh malam (capee). Perjalanan bis di tol jagorawi berakhir di exit tol Citeureup, dan saya melanjutkan dengan naik angkot menuju wanaherang. Perjalanan dari citeureup ke wanaherang cukup pendek waktunya, paling 20 menit kalau campur macet. Pernah saya karena macet, supir angkotnya puter balik dan saya harus jalan sejauh 1 Km malam-malam duhh... tapi rasa lelahnya mudik selalu terbayar saat melihat My Father sudah menunggu di pinggir jalan untuk menjemput hehe.

Sampai rumah, disambut seperti seorang pangeran datang dari pengembaraan, tentunya disuguh dengan berbagai hidangan lezat dan hangat (mantapp,,,karena belum makan sejak sore), biasanya saya makan sambil ngobrol dengan orang tua dan juga sambil nonton tivi. Yahh begitulah liburan saya dimulai selama 2 hari  malam disana. Karena Minggu saya sudah harus pulang lagi ke Bandung dengan bis yang sama, tapiberangkat dari Cileungsi pukul 15.00. 

Begitulah agenda perjalanan mudik saya... hikmahnya saya bekerja di Bandung adalah saya lebih dekat dengan orang tua. Banyak pengalaman saya dari perjalanan Bandung-Bogor bolak-balik ini, dan tidak terbeli sampai kapan pun..pertanyaanya kapan saya melakukan perjalanan ini lagi ? .. akankah bisa mengulanginya lagi? karena memori itu masih teingat kuat, bahkan sore hari saat mudik itu pun saya masih ingat suasananya...

Best Regards,