Copyright © Light After Darkness
Design by Dzignine
Minggu, 09 Agustus 2015

Sabar saat dipermalukan oleh orang lain.


Dear Sinnamate

Pernahkah kamu dipermalukan oleh orang lain ; baik dengan perkataan, perbuatan atau dengan sikap?. Apakah pernah dipermalukan di depan umum oleh teman, orang terdekat atau orang asing tak dikenal yang baru hari itu ketemu pertama kali ?. Dipermalukan tentu membuat perasaan seseorang malu dan juga pasti merasa kecewa, sedih serta marah. Apalagi jika dipermalukannya dengan sangat keterlaluan, tentu bisa menimbulkan dendam kesumat atau perasaan membalas dendam untuk balik mempermalukan. Lalu bagaimana kita seharusnya menyikapi hal ini ? mengingat kejadian seperti ini acap terjadi dalam kehidupan. Sebelumnya mari kita urai dari asal muasalnya :

Kenapa seseorang bisa dipermalukan ?
Ada beberapa faktor kenapa seseorang bisa dipermalukan oleh orang lain, saya ambil contoh orang yang dipermalukan sebagai A dan orang yang mempermalukan sebagai B. Ilustrasi penyebabnya adalah sebagai berikut :
a. A dipermalukan oleh B, karena A dianggap melakukan kesalahan kepada B, sehingga dia harus dipermalukan untuk membayar kesalahannya dan agar dia jera
b. B merasa dia adalah orang yang lebih superior terhadap A sehingga B boleh melakukan apapun kepada A.
c. B adalah orang yang gemar mempermalukan orang lain, termasuk si A, agar B terlihat lebih hebat dan tinggi derajatnya dari A (intinya gemar merendahkan orang lain)
d. B adalah orang yang gemar bercanda dengan mempermalukan orang lain (kadang tidak sadar bahwa perbuatan/perkataaanya menyakiti hati)

Bagaimana reaksi orang yang dipermalukan ?
Semua orang yang dipermalukan, akan merasa malu, marah, gugup, kecewa, dan sedih (semua perasaan tersebut campur aduk jadi satu). Bagi yang tidak bisa mengendalikan diri, perasaan tersebut dapat berkembang menjadi dendam dan keinginan untuk membalas perlakuan yang sama terhadapnya. Keinginan tersebut muncul diawali dengan pertanyaan kepada diri "kenapa dia bisa tega mempermalukan saya seperti itu ?". Respon awal saat dipermalukan sangat wajar dan manusiawi, tapi respon lanjutan dari respon awal lah yang perlu diwaspadai.

Bagaimana reaksi orang yang mempermalukan?
Setelah mempermalukan orang lain, orang bisa saja menjadi puas, senang, merasa hebat dan menang, atau justru dia tidak merasa apa-apa  karena tidak sadar sama sekali kalau sikapnya barusan telah menyakiti hati orang lain. Ini kebanyakan yang terjadi di masyarakat, dimana seseorang merasa telah melakukan hal yang benar namun ternyata yang dia buat adalah penderitaan bagi orang lain. 

Bagaimana sikap saat dipermalukan orang lain ?
a. Tetap tenang dan sabar. Tarik nafas dalam-dalam dan hembuskan perlahan untuk mengatur ritme nafas. Bila terlalu banyak orang yang berada disekitar anda dan pembicaraan itu terdengar tidak nyaman, segera ungkapkan untuk berbicara secara pribadi dengan yang sedang atau akan mempermalukan.
b. Bersikap tegas tapi bukan sama-sama emosi. Jika anda dalam posisi yang benar, diamkan saja orang yang mempermalukan anda sampai bicaranya selesai, baru kemudian sampaikan pendapat anda. Ingat ! gunakan cara berbicara yang paling baik, tidak dengan nada tinggi,  menggunakan pengaturan nafas yang tidak terkesan emosional, sehingga anda bisa tunjukan kepada orang yang diajak bicara atau orang yang melihat perbincangan anda, bahwa anda mampu berpikir jernih, bersikap bijak dan tidak  "bodoh".
c.Jika benar-benar membuat perasaan anda terluka, sampaikan saja bahwa perasaan anda terluka dengan perlakuan itu. Tapi anda harus mengucapkannya dengan bahasa yang santun semata-mata untuk menunjukan bahwa caranya untuk menunjukan sesuatu kepada anda,yaitu dengan cara mempermalukan adalah dengan cara yang keliru

Hikmah dari dipermalukan

Seseorang yang melakukan kesalahan sudah selayaknya harus memperbaikinya dan kita semua sependapat dengan itu karena kesalahan itu bisa merugikan dirinya sendiri dan juga orang lain. Sengaja mempermalukan orang lain adalah cara yang SALAH dalam membuat orang lain melakukan sesuatu,walaupun niatnya untuk membenarkan sesuatu. Sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW, Beliau tidak pernah sekalipun menghinakan, merendahkan atau mempermalukan orang lain, termasuk kepada orang yang terang-terangan memusuhinya. Bahkan Beliau dengan keteladanan sikapnya yang baik, memberikan contoh seperti yang disampaikan Beliau sampaikan kepada Jabir bin Sulaim sebagai berikut :

 وَإِنِ امْرُؤٌ شَتَمَكَ وَعَيَّرَكَ بِمَا يَعْلَمُ فِيكَ فَلاَ تُعَيِّرْهُ بِمَا تَعْلَمُ فِيهِ فَإِنَّمَا وَبَالُ ذَلِكَ عَلَيْهِ
Jika ada seseorang yang menghinamu dan mempermalukanmu dengan sesuatu yang ia ketahui ada padamu, maka janganlah engkau membalasnya dengan sesuatu yang engkau ketahui ada padanya. Akibat buruk biarlah dia yang menanggungnya.” (HR. Abu Daud no. 4084 dan Tirmidzi no. 2722. Al Hafizh Abu Thohir menyebutkann bahwa sanad hadits ini shahih. Al Hafizh Ibnu Hajar menyatakan bahwa hadits ini shahih).
Hadis tersebut memberi contoh, ketika kita dipermalukan dan dihina maka kita tidak perlu membalas dengan menghina dan mencela orang tersebut walau kita tahu kekurangan yang ada pada dirinya dan bisa menjatuhkannya. Biarlah akibat jelek dari mencela dan menjatuhkan itu, membawa akibat sendiri kepadanya, entah di dunia ataupun di akhiran nanti. Kita juga diberi contoh  untuk tidak memutus silaturahmi langsung dengan orang yang mempermalukan kita, dan hanya lebih baik menghindari berurusan dengannya. Dalam Al Qur'an bahkan tercantum ikhwal ini dalam sebuah ayatnya
Hadis tersebut memberi contoh, ketika kita dipermalukan dan dihina maka kita tidak perlu membalas dengan menghina dan mencela orang tersebut walau kita tahu kekurangan yang ada pada dirinya dan bisa menjatuhkannya. Biarlah akibat jelek dari mencela dan menjatuhkan itu, membawa akibat sendiri kepadanya, entah di dunia ataupun di akhiran nanti. Kita juga diberi contoh  untuk tidak memutus silaturahmi langsung dengan orang yang mempermalukan kita, dan hanya lebih baik menghindari berurusan dengannya. Dalam Al Qur'an bahkan tercantum ikhwal ini dalam sebuah ayatnya


 الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ
Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushilat: 34-35).
Jadi jika orang yang dipermalukan sabar, maka derajat keduanya akan menjadi tidak sama. Bukan yang mempermalukan yang derajatnya lebih tinggi seperti anggapannya atau anggapan orang yang berada disekeliling kejadian itu, tapi orang yang dipermalukan itulah yang derajatnya lebih tinggi dihadapan Rabb nya, karena dia mengutamakan kesabaran. Sebenarnya kalau dipikir-pikir, kalau kita tidak terpancing emosi saat dipermalukan, maka kita seperti sedang membiarkan orang yang mempermalukan kita menambah dosa bagi dirinya. Di akhir tulisan ini, saya mengajak agar kita mampu berpikir jernih dan banyak berdoa semoga kita selalu terjaga dari kejadian mempermalukan atau dipermalukan seperti itu…amin
Best Regards,






Jumat, 07 Agustus 2015

Pengalaman kompre (farmasi Industri)

Dear All,

Puncak dari ujian kompre pun tiba... hari ketiga adalah ujian mengenai farmasi industri. Pengujinya 2 orang adalah dari pihak eksternal. Yang pertama adalah seorang plant manager dari sebuah industri farmasi di semarang, dan yang kedua adalah seorang dosen farmasi industri dari sebuah kampus di jakarta. well, saya mendapat nomor urut pertengahan,...setidaknya deg-degan saya tidak kelamaan, tapi konsekuensinya adalah saya lebih cepat untuk dieksekusi.

Masuk ke ruang ujian, kedua penguji cukup ramah memperlakukan saya, karena saya juga berusaha sesopan mungkin menghadapi mereka. Di awal saya diminta memperkenalkan diri dan dilanjutkan menceritakan apa yang saya lakukan saat PKPA di Industri. Saya jelaskan seminimal mungkin agar tidak malah menimbulkan pertanyaan. Tapi ujung-ujungnya karena pengujinya memang sudah niat menanyakan suat hal, tentu ditanya juga (intinya siap tidak siap harus siap juga hehe). Saya ditanya mengenai alur produksi, tugas supervisor produksi, Cara melakukan pengujian tablet (salah satu penguji meminta saya menyebutkan rujukan dari farmakope ke 3, sebuah buku yang tentu saya tidak baca menjelang kompre). Kemudian mengenai QA (Quality Assurance), product recall, water system dan tentang DVR serta CAPA. Untungnya saya mendapat ilmu banyak dari industri tempat saya PKPA, sehingga secara umum saya bisa menjawab dengan cukup baik dengan sedikit dibumbui terbata-bata. CPOB malah sama sekali tidak keluar, padahal pusing sekali memahami dan menghafalkan aspek-aspeknya. Saat yang menarik adalah saat saya memperhatikan ekspresi para penguji ini, Beliau-beliau ini terdiam dan memperhatikan dengan muka serius dan seksama jika saya mampu menjawab dan menjelaskan pertanyaan mereka. Tapi wajah keduanya langsung ceria, dan tertawa justru saat saya bingung tidak bisa jawab..haha seperti ada kepuasan tersendiri tampaknya melihat mahasiswa bingung,, mungkin kalau saya menguji orang besok-besok bisa jadi timbul perasaan yang sama haha ><.

Akhirnya...semuanya selesai dengan lumayan lancar. Tidak sedikit sharing dari teman-teman yang mendapat lain penguji sampai ada yang nangis, dimarahin, ditanya tidak bisa... ini dan itu. Banyak bersyukur Alhamdulillah saya kebagian penguji yang tidak terlalu killer.

Walau suasana kompre seperti itu, nyatanya kami semua seangkatan lulus, dengan nilai yang baik-baik... melebihi ekspektasi dan juga sangkaan. Alhamdulillah
Best Regards,

Pengalaman Kompre (Rumah Sakit)

Dear All,

Hari kedua saya mengikuti ujian kompre adalah tentang ujian tema farmasi rumah sakit. Tema yang sangat luas, dan dianggap sulit serta merupakan puncaknya farmasi klinik dan komunitas. Banyak dari kami para Apoteker Muda yang stress menghadapi ujian ini, walaupun saya sendiri tidak. Mengapa ? Entah kenapa saya lebih percaya diri menghadapi ujian farmasi rumah sakit daripada Apotek. Ini semua berkat pembelajaran yang saya dapat di RS tempat saya PKPA yang saya nilai cukup lengkap dan cukup komprehensif.

Melihat jadwal, sekali lagi saya mendapat nomor urut 2 dari terakhir, tapi tidak apa-apa. Saya berusaha maksimalkan untuk belajar dan berdiskusi dengan teman di luar ruang ujian, walaupun saya tahu itu tidak banyak membantu. Saya cukup optimis, karena melihat penguji saya hari itu lumayan familiar. Penguji pertama adalah ketua IAI daerah saya yang juga dosen saya walaupun Beliau adalah praktisi (tentunya sudah kenal), sedangkan yang satunya lagi juga dosen senior yang juga dosen di kampus saya. Ketika nama saya dipanggil masuk ruang ujian, Pak dosen yang ketua IAI tersenyum sambil berkata "oalah kowe toh sing arep ujian ? (oalah kamu toh yang mau ujian -translated)". 

Pertanyaan dari beliau berkisar tentang farmasi klinis. Pertama adalah mengenai pelayanan konseling yang dilakukan di rumah sakit tempat saya PKPA. Ditanya juga mengenai pengalaman konseling dan kasus yang dikonselingkan. Pertanyaan kedua mengenai formularium dan panitia farmasi terapi. Alhamdulillah karena saya lancar jaya jawab pertanyaan-pertanyaan ini saya cuma dikasih 2 pertanyaan ini (yess !), pertanyaan selanjutnya dari bapak dosen senior adalah tentang CSSD. Sebenarnya saya juga tidak terlalu menguasai materi ini, tapi karena saya gunakan skill komunikasi dengan bapak-bapak kasepuhan haha, maka saya malah kebanyakan diceritain dan dinasehatin layaknya nasehat kakek kepada cucu nya haha. Pokoknya saat Beliau cerita masa mudanya, saya iyakan, saya beri perhatian maksimal dan apresiasi layaknya saya mengerti dan kagum kepada kisah beliau (dan emang ternyata masa mudanya beliau emang dahsyat). Hasilnya tidak ada pertanyaan lanjutan dan saya melenggang keluar dengan perasaan lega..

Keluar dari ruang ujian, melihat saya sedikit cerah karena tidak dibantai membuat banyak orang penasaran. Baru saja saya cerita pengalaman di dalam ruang ujian, eh dari ruang sebelah ada teman yang habis dibantai, dan membuat saya tidak enak hati menceritakan apa yang terjadi. Saya rasa teman saya habis beradu argumen dengan penguji, sampai membuat penguji tersebut marah. Entahlah, memang dalam kondisi ujian seperti itu, kita harus banyak bersabar, tegas tapi tidak meninggikan diri, dan menerima tapi tidak bodoh. Kompre itu benar-benar unpredictable. Teman saya ada yang dapat satu pertanyaan  yaitu tentang monitoring obat, dan yang lainnya hanya tentang menghitung dosis kemoterapi. Tapi ada juga yang kebagian rumus perencanaan obat (beruntung saya tidak dapat yang ini hehe).

Hari kedua selesai, setidaknya sesuatu yang tidak lancar seperti hari pertama tidak terulang kembali. Optimis hari ini lulus, dan bersiap untuk menghadapi kompre hari terakhir. Kompre mengenai tema yang paling absurd dan paling tidak mudengi, farmasi industri. Satu angkatan bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.
Best Regards,

Pengalaman Kompre (Apotek)

Dear All,
Saya pun mengalami ujian kompre dan sudah melewatinya. Apotek adalah tema pertama yang harus saya hadapi terlebih dulu. Secara jadwal, saya mendapat nomor urut 2 dari terakhir dan mendapat penguji dosen internal kampus yang diwakili seorang profesor dan dosen eksternal yang diwakili seorang praktisi kepala apoteker wilayah barat cabang kabupaten saya. Tidak dipungkiri, menghadapi suasana ujian yang disetting horor dan juga mendengar nama-nama besar sang penguji membuat saya grogi. Dan benar...awal-awal saya diintrogasi, perasaan tidak enak menyeruak. Saya sebenarnya hanya diuji 4 pertanyaan, yaitu tentang break event point, death stock, perhitungan pajak, dan feasibility study. Sama sekali tidak ada pertanyaan mengenai skrining resep atau hal lain. Tapi sayangnya 4 tema itulah yang sejatinya saya tidak terlalu menguasai haha ><.

Pertanyaan pertama adalah tentang death stock, yaitu mengenai apa dan bagaimana pentingnya mengelola stok di apotek. Kemudian pertanyaan kedua adalah tentang break even point alias kapan balik modal. Pak Prof memberikan saya sebuah soal cerita mengenai pendirian Apotek, yang membuat saya harus berpikir double karena harus paham terhadap cerita bapaknya. Berkali-kali saya mencoba berhitung dan berkali-kali keliru sampai ujungnya benar setelah berapa kali entah mencoba jawab hehe...pertanyaan terakhir dari pak prof mengenai studi kelayakan terutama aspek apa yang perlu diperhatikan saat akan mendirikan apotek. Disini saya mendapat pelajaran dan ilmu penting dari beliau mengenai aspek dalam hal tersebut. Pertama, beliau menganalogikan dengan aspek yang perlu diperhatikan dalam mencari istri (entah kenapa Beliau menganalogikan dengan ini ><), aspek yang perlu diperhatikan adalah apakah si calon itu wanita MUSLIMAH dan SHALIHAH atau tidak. Pelajaran kedua (yang ini beneran tentang Apotek) adalah yang perlu diperhatikan saat mendirikan Apotek adalah aspek moral. Maksudnya adalah perlu diperhatikan, ada atau tidak APOTEK berdiri di DEKAT tempat yang akan kita buka APOTEK. Secara aturan memang tidak ada sesuatu hal yang membatasi radius berapa apotek yang satu dengan yang lain berdekatan. Tapi secara aspek moral profesi, btidak bisakah kita membiarkan daerah tersebut sebagai area praktik saudara seprofesi kita ?bukankah pendekatan pendirian Apotek tidak semata hanyalah bisnis melainkan juga tempat praktik kesehatan ? sementara masih ada daerah lain yang belum terjangkau keberadaan Apotek. Mendengar uraian pak Penguji, saya terkesima...sampai lupa jawab haha.

Pertanyaan terakhir dari penguji eksternal yang tampaknya sudah kasihan melihat saya dicekoki pertanyaan yang mendalam dari pak prof pun akhirnya diberikan. Beliau dengan baik hati hanya memberikan satu pertanyaan, yang ternyata adalah salah satu bab yang paling pamungkas yaitu pajak apotek. Lengkap sudah otak saya bekerja keras hari ini. Soal ceritanya untuk dibuat sederhana, yang sayangnya tetap saja saya bingung. Setelah beberapa kali coba, akhirnya saya berhasil menyelesaikannya dengan benar. Kedua penguji tersenyum pada saya, entah lucu, miris atau bagaimana melihat jawaban jawaban saya hehe... tapi sudahlah yang jelas hari itu saya sudah berusaha keras,dan hasil saya serahkan pada Alloh SWT, walaupun saya masih tidak karuan memikirkan hasilnya. Tapi tidak boleh saya lanjutkan kegalauan karena masih ada hari esok...hari kedua kompre.
Best Regards,

Kamis, 06 Agustus 2015

Ujian Komprehensif... horror atau tidak ?

Dear All,

Semalam saya dapat curhatan temen yang mau ujian komprehensif Profesi Apoteker. Apa itu ujian komprehensif ? Ujian Komprehensif adalah ujian, bisa lisan atau tertulis (tergantung kampus) untuk menilai kompetensi para calon Apoteker, terutama bagaimana cara mereka mensinergikan penguasaan teori dan pengalaman praktis yang sudah di dapat.Ujian Komprehensif (atau biasa disingkat Kompre) merupakan salah satu aspek penting dalam perkuliahan Apoteker. Karena menyumbang nilai terbesar dari nilai PKPA (Praktek kerja Profesi Apoteker), dan BERBAHAYA jika tidak bisa melewatinya. Konsekuensi dari tidak lulus ujian ini adalah Apoteker Muda harus mengulang di periode selanjutnya dalam pelaksanaan kompre (bisa jadi 6 bulan lagi).

Konsekuensi yang demikian berat itulah membuat para Apoteker Muda merasa si kompre ini cenderung horor. Kenyataannya... memang aura pelaksanaan ujian ini dibuat sedemikian tegang, meskipun kenyataannya tidak semua pelaksanaanya seperti itu. Perasaan mencekam itu sebenarnya muncul karena para Apoteker Muda merasa persiapan pengetahuan atau ilmu yang dimiliki tidak cukup untuk menghadapi para penguji. Kebanyakan dalam hati para Apoteker muda  ingin menyalahkan diri sendiri, kenapa kemarin pas PKPA masih sempat keluyuran main  kesana kesini dan tidak belajar, dan sekarang malah merasa belajar di tempat PKPA itu banyak yang belum ditanyakan wkwk haha tapi sayangnya penyesalan datangnya sudah terlambat. Dengan persiapan seadanya dan bermodal laporan PKPA, para Apoteker Muda biasanya nekat masuk ruang ujian kompre (bukan nekat sihh..tapi terpaksa karena namanya sudah dipanggil). So, mari kita bahas si kompre ini.

Definisi Kompre
Seperti yang sudah saya sebutkan tadi, bahwa ujian Komprehensif adalah ujian, bisa lisan atau tertulis (tergantung kampus) untuk menilai kompetensi para calon Apoteker, terutama bagaimana cara mereka mensinergikan penguasaan teori dan pengalaman praktis yang sudah di dapat. Di kampus saya dulu ujiannya lisan, dan sensasinya sangat mantap (deg-degan sampai pada  lupa ngomong hehe).

 Kenapa harus ada kompre ?
Sebagai calon tenaga kesehatan yang akan lulus pendidikan, maka harus diuji terlebih dahulu bagaimana kompetensinya. Kompetensi itu dibangun dari 2 hal, yaitu kemampuan dan sikap. Kemampuan terdiri dari kemampuan teoritis dan pengalaman praktik. Nah..kompetensi ini akan terlihat selama pelaksanaan kompre. Lagipula kompre dimasukkan kedalam aspek penilaian PKPA di semester 2 kuliah profesi Apoteker selain nilai pelaksanaan dari pembimbing PKPA dan nilai laporan PKPA. So, jika nilainnya jelek maka akan mempengaruhi nilai IPK (Indeks Prestasi Kumulatif).

Apa yang terjadi jika tidak lulus kompre ?
Yang terjadi adalah Apoteker Muda harus mengulang di periode kompre selanjutnya, yaitu pada angkatan perkuliahan profesi Apoteker Selanjutnya yang akan melaksanakan Kompre. Banyak terjadi kondisi ini, dan jangan sampai kalian jadi korbannya.

Kenapa bisa tidak lulus kompre ?
a. Tidak menjawab sama sekali pertanyaan penguji
b. Tidak belajar sehingga jawabannya kemana-mana tidak sesuai dengan pertanyaan
c. Sikap menjawab atau sikap berbicara yang tidak baik saat melakukan ujian sehingga penguji jadi ilfeel.

Berapa lama kompre itu dilakukan ?
kompre biasanya berlangsung 3-4 hari, tergantung tema yang akan diujikan. Bisa jadi satu minggu, tergantung kampusnya pokoknya.
Lama durasi diuji kompre ?
Antara 30-60 menit, rata-rata sih 45 menit, dengan ditandai bel. Bisa kurang atau lebih, tergantung penguji.

Tema apa yang diuji ?
Tema yang diujikan adalah sesuai peminatan perkuliahan, misalnya farmasi rumah sakit, apotek, industri, dinas kesehatan, atau semuanya (seperti saya ><)
Siapa yang menguji ?
Biasanya yang menguji 2 orang. Satu orang dosen internal kampus, yang satunya lagi praktisi dari tempat PKPA yang bukan tempat praktekmu. Jadi pengujinya silang.
Apa saja yang diuji ?
Maksudnya kisi-kisi ? waduh di postingan ini tidak ada tapi mungkin kalau search di mbah Google banyak yang share.
Tahapan Mau kompre apa si ?
Yang jelas sebelum kompre, kita harus sudah mempunyai Laporan PKPA yang fix disetujui oleh pembimbing kampus ataupun pembimbing lapangan. Nah kemudian juga harus sudah lulus ujian pre kompre. what ? ujian lagi ? benar, tapi ini semi-ujian. Walaupun ujian tapi yang menguji adalah dosen pembimbing kita sendiri dan disertai unsur edukasi, dimana kita akan dites kesiapan kita sebelum kompre. Jika masih ada yang belum bisa, maka dosen pembimbing akan mengajari dimana kekurangan kita. Baru deh jika itu semua sudah lewat, kita akan mendapat jadwal kapan kompre, siapa pengujinya, dan daper nomor urut berapa ?

Bagi para Apoteker Muda yang akan menghadapi kompre, saran saya...
1. 

Selasa, 04 Agustus 2015

Rasanya...harus mulai bertindak

Dear All,

Saya berpikir...sudah saatnya mengupayakan yang terbaik dari yang terbaik yang bisa saya usahakan. Rasanya saya terlalu menahan diri atau bahkan tidak fokus untuk mengusahakan yang terbaik. Fokus saya selalu terganggu oleh banyak hal yang saya harusnya bisa kendalikan. Saya harus berusaha menjadi LEBIH BAIK lagi...harus... dan pasti bisa.

Saya harus yakin bahwa saya punya kemampuan, punya kemauan, dan saya punya Alloh yang melindungi dan meridhai saya. Sebagai bukti, bahwa saya bisa diterima di tempat kerja yang sekarang, dan itu artinya saya memang dipercaya untuk bisa menjalankan kewajiban saya disini. Sehingga kesimpulannya, saya tidak boleh minder sedikitpun...karena itu artinya saya menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh Alloh. Dan lebih parah lagi..itu artinya saya tidak bersyukur akan karuniaNya.

Bismillah...semoga niat saya untuk berbuat kebaikan di tempat kerja yang baru ini diridhai olehNya...Amin
Best Regards,
Senin, 03 Agustus 2015

Welcome Agustus...

Dear All,

Selamat datang bulan ke 8, bulan Agustus. Cepat sekali rasanya 2015 berjalan menuju penghujung tahun. Rasanya baru kemarin saya masih berada dalam perayaan tahun baru nya...ahhh atau itu hanya karena always reminding all about january ? .

Menengok kembali ke bulan Juli, blog ini sangat-sangat tidak terurus...that's my fault !!. Sibuk mengurusi hal lain di dunia nyata, ternyata mengundang exhausting condition. Kenyataanya adaptasi tidak semudah yang dibayangkan, terutama adaptasi mental saya pribadi. Masih banyak ego yang harus dikendalikan dan kemampuan interaksi dengan orang lain yang perlu ditingkatkan.

Refleksi bulan juli, saya harus harus harus lebih SABAR, terkait menghadapi kondisi yang tidak sesuai dengan keinginan dan harapan. Baik itu hasil dari tindakan kita yang BELUM berhasil, maupun tindakan orang lain yang BELUM sesuai keinginan. Saya juga harus harus harus lebih berSYUKUR. terkait mendapatkan nikmat-nikmat yang telah saya dapatkan. Jangan sampai nikmat itu baru TERASA setelah PERGI.

Juli, banyak sekali momen yang telah terlewati, diantaranya :
1. Saya banyak belajar mengenai bagaimana cara mengendalikan stok barang. Terutama terkait menyesuaikan stok komputer, stok fisik, kartu stok gudang dan unit pelayanan dengan permintaan yang akan dibuat ke Gudang Buffer sentral Farmasi. Apalagi dengan kebijakan adanya stok opname bulanan-yang dibuat dalam rangka mencegah adanya selisih barang.
2. Saya pertama kali ikut serta dan mengisi briefing pagi (atau disini nama kerennya meeting morning)dari profesi kesehatan lain. Saya berasa menjadi tamu hehe...emmm.. waktu itu saya ikut menyampaikan perihal mekanisme pelayanan kefarmasian untuk operasi saat libur lebaran.
3. Saya membuat Dispensing set untuk jaga lebaran, dengan item yang menyesuaikan tindakan / penyakit yang banyak terjadi saat lebaran, meskipun tahun ini ada unpredictable event yang muncul, yaitu dari Operasi Orthopedi.
4. Jreng..jreng... saya cuma libur pada hari H lebaran saja >.<... awesome moment. Hilang sudah harap-harap bisa piknik bersama keluarga atau teman. Saya jaga sendiri di 2 hari terakhir libur lebaran, dan yang paling sip adalah hari senin sudah MASUK seperti biasa (okey, I am fine, happy and strong #sambilngacamukamelas).
5. Pertama kali merasakan suasana menghadapi auditor yang datang ke Rumah Sakit. Rasanya harap-harap cemas, karena saya sebagai orang baru, ternyata langsung diberi kewajiban untuk mendampingi dan menjawab pertanyaan dari Auditor seputar pelayanan kefarmasian, terutama manajemen obat-obat high akert di lingkup instalasi bedah. Rasanya seperti mengulang tahun kemarin, saat saya baru masuk Industri Farmasi dan sudah ada Auditor dari Yaman yang datang untuk menilai produk kami yang dijual di negara mereka. Bedanya saya belum dapat kewenangan untuk mendampingi auditor itu.

Semua itu telah terlewati, dan menjadi pengalaman, pembelajaran dan kenangan. Dan bulan ini pasti mempunyai cerita yang baru lagi. Saya berharap akan mencapat cerita indah dan baik. Aminn and Bismillah.

Best Regards,